Kamis, 19 April 2018

Pembelajaran Kimia

Assalamualaikum Wr. Wb 
Blog ini dituliskan beradasarkan UTS MK KAPITA SELEKTA mengenai Upaya mengatasi persoalan pembelajaran kimia 😊
  Semoga Bermanfaat 🙏
 PEMBELAJARAN KIMIA

Pelajaran kimia merupakan salah satu bidang mata pelajaran IPA yang mempelajari tentang fenomena yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Tujuan pembelajaran kimia adalah agar peserta didik dapat menguasai konsep-konsep, bersikap ilmiah serta dapat memahami konsep-konsep kimia yang pada akhirnya dapat menyelesaikan masalah yang ada didalamnya. 
Pelajaran kimia sering dianggap membosankan, sulit serta abstrak. Sehingga banyak peserta didik yang kurang tertarik untuk mempelajarinya. Dengan pola pikir yang demikian, peserta didik akan sulit menerima pelajaran yang diajarkan. Untuk menghilangkan pola pikir tersebut peran guru sangat penting terutama dalam melakukan variatif model pembelajaran yang menarik bagi peserta didik saat pembelajaran berlangsung. Dalam proses pembelajaran guru tidak hanya sebagai transfer informasi atau konsep-konsep, akan tetapi bagaimana informasi atau konsep-konsep tersebut betul bisa dipahami serta tertanam pada benak peserta didik itu sendiri. Apabila dalam proses pembelajaran peserta didik kurang terlibat saat mencari, dan menemukan pengetahuan serta ketrampilan, akan mengakibatkan pembelajaran tersebut menjadi membosankan dan peserta didik tidak berminat sehingga mudah beralih ke aktifitas yang lainnya saat pembelajaran berlangsung. Masalah seperti ini juga akan berdampak pada hasil belajar peserta didik.
Pendidikan Kimia sebagai suatu bidang ilmu, sebagaimana ilmu-ilmu yang lain, memiliki objek atau bahan kajian (aspek ontologi), memiliki cara memperoleh (aspek epistemologi), dan kegunaan (aspek aksiologi). Sebagai bidang ilmu dari ilmu pendidikan, pendidikan kimia mempunyai bahan kajian searah dengan ilmu pendidikan (Konsorsium, 1991:6), yaitu:
Ø    Kurikulum, yang meliputi teori tentang pengembangan kurikulum kimia, organisasi kurikulum kimia, isi kurikulum kimia, dan model-model pengem-bangan kurikulum kimia.
Ø    Peserta didik dan perbuatan belajar, yang meliputi teori tentang karakteristik peserta didik, jenis-jenis dan cara belajar kimia, hirarkhi proses belajar kimia, dan kondisi-kondisi belajar kimia
Ø    Pendidik dan perbutan mendidik/mengajar, yang meliputi teori tentang karakteristik pendidik kimia, karakteristik perbuatan mendidik atau mengajar kimia, model-model mendidik atau mengajar kimia, metode atau teknik mendidik atau menga-jar kimia, dan sistem pengelolaan kelas.
Ø    Lingkungan Pendidikan, yang meliputi teori tentang pranata pendidikan kimia, perencanaan dan pengelolaan pendidikan kimia, bimbingan dan penyuluhan atau bimbingan karir, dan sarana atau media pendidikan kimia.
Ø    Sistem asesmen atau penilaian, yang meliputi teori tentang model-model penilaian hasil belajar kimia, teknik penilaian hasil belajar kimia, dan instrumen penilaian hasil belajar kimia.


Ø  Kurikulum Kimia
Kurikulum Jurusan Kimia adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi, bahan kajian, maupun bahan pelajaran serta cara penyampaiannya, dan penilaian yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di Jurusan Kimia. Kurikulum yang dilaksanakan selama empat tahun terakhir ini adalah kurikulum Jurusan Kimia yang mengikuti Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sesuai dengan Kepmendiknas No. 045/U/2002. Kurikulum ini memuat kompetensi lulusan secara umum (tidak secara eksplisit menyebutkan kompetensi utama atau pendukung atau kompetensi lainnya) yang dapat mendukung tercapainya tujuan, terlaksananya misi dan terwujudnya visi jurusan.
Pada tahun 2013 dilakukan evaluasi, revisi dan pengembangan kurikulum untuk menyesuaikan dengan sistem Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan juga mengikuti Permen/Kepmen dan kebutuhan lapangan dan telah menghasilkan Kurikulum Jurusan Kimia 2013 yang mulai diberlakukan pada mahasiswa baru angkatan 2014/2015. Kompetensi lulusan yang dicanangkan dalam Kurikulum 2013 meliputi kompetensi utama, pendukung dan lainnya.
Model-model pengembangan kurikulum kimia :
·         Model Tyler
·         Model Zais
·         Model Grass Rot
·         Model Beauchamp
·         Model Hilda Taba
·         Model seller dan Miler

Ø  Peserta didik dan perbuatan belajar kimia
Setiap siswa pada prinsipnya berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik yang memuaskan. Namun kenyataannya bahwa siswa memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan belajar yang terkadang sangat mencolok antara seorang siswa dengan siswa lainnya. Sementara itu, sekolah umumnya hanya ditujukan pada siswa yang berkemampuan rata-rata, sehingga siswa yang berkemampuan kurang diabaikan. Dengan demikian, siswa yang berkategori “di luar rata-rata” itu (sangat pintar dan sangat bodoh) tidak mendapat kesempatan yang memadai untuk berkembang sesuai dengan kapasitasnya. Dari sini kemudian timbullah apa yang disebut kesulitan belajar, yang tidak hanya menimpa siswa berkemampuan rendah saja, tetapi juga dialami oleh siswa yang berkemampuan rata-rata (normal) disebabkan faktor-faktor tertentu yang menghambat tercapainya kinerja akademik. Faktor-faktor kesulitan belajar tersebut terdiri dari faktor internal dan eksternal siswa. Faktor internal meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sedangkan faktor eksternal siswa meliputi lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah.
Wiseman (dalam Rumansyah, 2002: 172) mengemukakan bahwa ilmu kimia merupakan salah satu pelajaran tersulit bagi kebanyakan siswa menengah dan mahasiswa. Kesulitan mempelajari ilmu kimia ini terkait dengan ciri-ciri ilmu kimia itu sendiri yang disebutkan oleh Kean dan Middlecamp (dalam Rumansyah, 2002: 172) sebagai berikut.

a. Sebagian besar ilmu kimia bersifat abstrak. Atom, molekul, dan ion merupakan materi dasar kimia yang tidak nampak, yang menuntut siswa dan mahasiswa membayangkan keberadaan materi tersebut tanpa mengalaminya secara langsung. Karena atom merupakan pusat kegiatan kimia, maka walaupun kita tidak melihat atom secara langsung, tetapi dalam angan-angan kita dapat membentuk suatu gambar untuk mewakili sebuah atom, misalnya sebuah atom oksigen kita gambarkan sebagai bulatan.
b. Ilmu kimia merupakan penyederhanaan dari yang sebenarnya. Kebanyakan objek yang ada di dunia ini merupakan campuran zat-zat kimia yang kompleks dan rumit. Agar mudah dipelajari, maka pelajaran kimia dimulai dari gambaran yang disederhanakan, dimana zat-zat dianggap murni atau hanya dua atau tiga zat saja. Dalam penyederhanaannya diperlukan pemikiran dan pendekatan tertentu agar siswa atau mahasiswa tidak mengalami salah konsep dalam menerima materi yang diajarkan tersebut.
c. Sifat ilmu kimia berurutan dan berkembang dengan cepat.
Seringkali topik-topik ilmu kimia harus dipelajari dengan urutan tertentu. Misalnya, kita tidak dapat menggabungkan atom-atom untuk membentuk molekul, jika atom karakteristiknya tidak dipelajari terlebih dahulu. Di samping itu, perkembangan ilmu kimia itu sangat cepat, seperti pada bidang biokimia yang menyelidiki tentang rekayasa genetika, kloning, dan sebagainya. Hal ini menuntut kita semua untuk lebih cepat tanggap dan selektif dalam menerima semua kemajuan tersebut.
d. Ilmu kimia tidak hanya sekedar memecahkan soal.
Memecahkan soal-soal yang terdiri dari angka-angka (soal numerik) merupakan bagian yang penting dalam mempelajari kimia. Namun, kita juga harus mempelajari deskripsi seperti fakta kimia, aturan-aturan kimia, peristilahan kimia, dan lain-lain.
e. Bahan/materi yang dipelajari dalam ilmu kimia sangat banyak.
Dengan banyaknya bahan yang harus dipelajari, siswa ataupun mahasiswa dituntut untuk dapat merencanakan belajarnya dengan baik, sehingga waktu yang tersedia dapat digunakan seefisien mungkin.
Menurut Arifin (dalam Rumansyah, 2002: 172), kesulitan siswa dalam mempelajari ilmu kimia dapat bersumber pada:
a. Kesulitan dalam memahami istilah.
Kesulitan ini timbul karena kebanyakan siswa hanya hafal akan istilah dan tidak memahami dengan benar maksud dari istilah yang sering digunakan dalam pelajaran kimia.
b. Kesulitan dalam memahami konsep kimia.
Kebanyakan konsep-konsep dalam ilmu kimia maupun materi kimia secara keseluruhan merupakan konsep atau materi bersifat abstrak.
c. Kesulitan Angka.
Dalam pengajaran kimia siswa dituntut untuk terampil dalam rumusan/operasi matematis. Namun, sering dijumpai siswa yang kurang memahami rumusan tersebut. Hal ini disebabkan karena siswa tidak mengetahui dasar-dasar matematika dengan baik, siswa tidak hafal rumusan matematika yang banyak digunakan dalam perhitungan-perhitungan kimia, sehingga siswa tidak terampil dalam menggunakan operasi-operasi dasar matematika.
Ø  Pendidik dan perbuatan mendidik/mengajar kimia
Banyak guru yang menguasai materi kimia secara ekspert (ahli di bidangnya), namun masih banyak yang belum bisa bagaimana menyampaikan (mengajarkan) materi tersebut kepada siswa secara efektif dan efesien. Salah satu upaya agar pemeblajaran dapat berjalan efektif, maka diperlukan pendekatan-pendekatan yang tepat sehingga siswa dapat belajar dengan tuntas dan bermakna.

Pendekatan merupakan bagian dari strategi dan metode guru dalam melakukan pembelajaran agar siswa dapat belajar lebih mandiri. Kenapa demikian karena strategi menurut Drs. Sukro makmun, M.Si yang menjadi narasumber pada mmata diklat ini mengatakan bahwa “pengalaman belajar atau kegiatan yang dilakukan oleh siswa dan atau guru untuk mencapai kompetensi yang telah ditargetkan”. Lebih jauh dikatakan bahwa agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik dan terukur diperlukan metode pembelajaran. Menurut Sukron metode merupakan “cara atau prosedur yang dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif”.
Selanjutnya dikatakan bahwa Pendekatan terbagi atas Direct Teaching (pesan-pesan pembelajaran disampaikan secara langsung oleh guru kepada siswa) dan Indirect Teaching (Siswa memperoleh pesan-pesan pembelajaran, tetapi tidak secara langsung didapat dari guru , melainkan melalui suatu  proses yang dilakukan sendiri oleh siswa.
Dengan Indirect Teaching yang aktif adalah guru (teacher active teaching) karena menggunakan metode ceramah. Sedangkan dengan Indirect Teaching yang aktif adalah siswa (student active learning) karena cendrung menggunakan metode  Metode tanya jawab, eksperimen, tugas, diskusidll.

Model pembelajaran Indirect Teaching:
Siswa aktif belajar (melakukan) –> learning by doing –> student active learning –>CBSA membaca, mengamati, menghitung, mengukur, mengerjakan tugas, latihan, bertanya, berdiskusi, meneliti, meramalkan, menyimpulkan, melaporkan, melakukan percobaan, studi kasus, survey dll, 2. Guru sebagai fasilitator, motivator menyediakan alat, menyiapkan lembar kerja, mengembangkan format observasi, mengembangkan pedoman wawancara, membuat prosedur atau langkah-langkah kerja, membuat aturan main, mengorganisir kegiatan, memberi umpan balik, memberi penguatan dll,  3. Variasi dalam sumber belajar buku, majalah, surat kabar, nara sumber, museum, rumah sakit, kantor pos, pusat industri, kebun binatang, hutan, laut, perusahaan, kantor pemerintah dll, 4. Proses sama pentingnya dengan hasil. Target pembelajaran bukan semata-mata siswa menguasai informasi atau konsep, tetapi juga menguasai cara atau proses untuk memperoleh informasi/konsep tersebut. Jadi inilah yang dikenal dengan istilah Pendekatan Keterampilan Proses (PKP) yang berbasis Contekstual Learning (CTL).
Model – model pembelajaran kimia yang dapat digunakan ketika pemebelajaran berlangsung adalah :
Model Pembelajaran Konstruktivis. Model ini dapat digunakan untuk mengajarkan konsep pembentukan reaksi kimia, ikatan kimia, system periodik, reaksi pembatas dll.
Model STM (Sains-Teknologi-Masyarakat). Model ini adalah dengan menggabungkan konsep kimia dengan realitas yang ada di lingkugan masyarakat, seperti pentingnya mangatasi pencemaran lingkungan. Dimasyarakat banyak yang terkait tentang hal ini. Misalnya lingkungan bersih bernilai mulia disisi agama, menjaga kebersihan menggambarkan prilaku yang baik. Dari sisi ekonomi lingkungan bersih tidak banyak menimbulkan biaya pemeliharaan alias hemat dll.
Model Pembelajaran Kooperatif. Model ini siswa dapat melakukan diskusi untuk menemukan indicator alam, setelah melakukan percobaan secara berkelompok dengan berbagai bahan alam.
Model Pembelajaran Inquiri. Para siswa bisa menguji air sadah dan bukan sadah dan bagaimana cara menghilngkan dari kesadahan dengan melakukan praktikum.
Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Base Learning). Guru memberikan masalah,  misalnya diberikana beberapa larutan tanpa label, siswa dapat mengidentifikasi larutan yang bersifat asam, basa dan garam.
Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction). Dengan langkah sebagai berikut : 1). Temukan –> satu “hot spot” (pusat perhatian), 2). Observasi –> pengamatan/identifikasi data/info tentang hot spot, 3). Diskusi –> questioning, discussing, sharing, 4). Hasil –>hasil diskusi/pemecahan soal, 5. Laporanà sajian laporan (hasil) : lisan dan atau tertulis, 6. Display –> laporan dapat berupa poster, artikel, gambar, dll –> Hasil kelompok.
Model Pembelajaran berbasis Teknologi Informasi. Sebenarya model ini sangat mudah digunakan bila guru sudah menguasai ICT (Information Teknology dan Comunikation). Dalam bahasa sedehanya adalah pembelajara  menggunakan media computer. Hal ini dapat membantu guru dalam menjelaskan materi seperti reaksi inti lewat animasi, kecepatan reaksi, reaksi-reaksi uji nyala, reaksi laruatan-larutan pekat dan lain-lain. Apalagi sekarang sudah banyak animasi-animasi yang tersedia. Guru dapat dengan mudah menggunakannya dalam pembelajaran.
Sebenarnya masih menurut Sukro, bahwa model pendekatan Kooperatif banyak jenisnya. Guru tinggal memilih model-mana yang paling pas untuk membahas suatu topik. Misalnya model cooperative script (siswa berpasangan untuk menyelesaikan masalah yang diberikan guru),student teams-achievement divisions (stad) (siswa belajar dalam kelompok untuk menyelesaikan masalah 3 – 5 orang), jigsaw (model tim ahli). model pembelajaran yang lain yang perlu diketahui oleh para guru adalah TGT (team games tournament). 4 langkah dalam TGT adaalah : (a) identifikasi masalah, (b) pembahasan masalah dalam kelompok, (c) presentasi hasil bahasan kelompok (turnamen) dan, (d) penguatan guru  model ini sangat cocok digunakan untuk pembelajaran Remedial Teaching. (Bhr)
Cara Mengajar Kimia Yang Menyenangkan
Pelajaran kimia dianggap sebagian besar siswa menjadi pelajaran yang sulit dipahami dan dimengerti.Permasalahan pembelajaran kimia yang sampai saat ini belum mendapat pemecahan secara tuntas adalah adanya anggapan pada diri siswa bahwa pelajaran ini sulit dipahami dan dimengerti. Ini menyebabkan pelajaran kimia tidak disukai, bahkan sebagian siswa bersikap antipati dan menganggapnya sebagai momok.
Pertama, metode pembelajaran kimia yang diterapkan guru bersifat monoton dan kurang variasi. Ini menjadikan belajar kimia kurang bermakna dan tidak menarik bagi siswa.
Kedua, sebagian besar siswa terbawa opini yang terbentuk di tengah-tengah masyarakat bahwa pelajaran kimia itu sulit. Hal itu semakin memperkuat anggaan siswa terhadap pelajaran kimia sebagai cabang ilmu yang sulit dipelajari dan dipahami.
Permasalahan ini mendorong dia membuat metode pembelajaran kimia yang menyenangkan, mengasyikkan, dan mencerdaskan. Metode tersebut diberi nama model pembelajaran kimia rekreasi. Metode ini mengedepankan usaha menciptakan situasi belajar kimia bernuansa gembira yang dapat membuat siswa merasa asyik, dilakukan di luar maupun di dalam kelas.
Dalam metode ini, dia menerapkan lima macam pembelajaran kimia rekreasi. Yakni,belajar kimia sambil bernyanyi puitisisasi kimia, kuis kimia, karyawisata atau berkunjung ke objek wisata Menghapal delapan golongan unsur dengan kalimat jenaka (jembatan keledai).
Bernyanyi sambil belajar kimia, contohnya. Metode ini menggunakan pendekatan lagu atau nyanyian. Konsep dan sub konsep yang ada pada suatu pokok bahasan dirumuskan dalam bentuk bait lagu yang iramanya diambil dari lagu-lagu yang sudah dikenal siswa. Misalnya, siswa kelas I yang biasanya kesulitan memahami konsep ikatan ion dan proses terjadinya ion, ditanamkan lewat lagu Angin Mammiri.
Demikian pula dengan puitisasi kimia. Ini menggunakan pendekatan keindahan puisi. Siswa diberi tugas membaca pokok bahasan yang sedang dipelajari kemudian guru merumuskan konsep yang akan ditanamkan dalam bentuk puisi. Pada saat pembelajaran, siswa diminta membaca puisi di depan kelas. Setelah itu, guru menjelaskan makna puisi. ”Berdasarkan pengalaman penerapan model pembelajaran ini, antusias siswa meningkat, di samping dapat menggali dan menyalurkan bakat siswa di bidang seni sastra,” tuturnya.
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.
Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar; tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya lingkungan belajar; siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru mengarahkan dari dekat.
Komponen pembelajaran yang efektif meliputi:
Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.
Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.

Ø  Lingkungan Pendidikan Kimia
Pranata pendidikan adalah suatu organisasi sosial dalam rangka prosedur sosialisasi dan enkulturasi untuk mengantar orang ke dalam kehidupan bermasyarakat dan berbudaya, juga mengenai kelangsungan eksistensi dan safeguard masyarakat dan kebudayaannya.
Melalui sebuah organisasi pendidikan sosialisasi dan enkulturasi diselenggarakan oleh masyarakat umum, dan karena itu hidup dari orang-orang dan budaya mereka mampu bertahan hidup walaupun anggota individu sudah berganti dan berubah karena kelahiran, kematian, dan perpindahan.
Pranata pendidikan memumpunyai pedoman dan disiplin alam ditargetkan untuk mempersiapkan siswa mereka melalui pendidikan pengajaran dan teknologi untuk bisa berkompetensi dalam hidup, dalam posisi untuk percaya ilmiah dan logis tentang segala sesuatu untuk bisa  memilah hal-hal yang buruk dan baik. Pranata pendidikan yang terkandung dalam institusi dasar.
Dengan pranata pendidikan, konsekuensi yang diharapkan dari sosialisasi akan membentuk sebuah sikap mental yang benar hidup di jaman sekarang dan yang akan datang.
Fungsi pranata pendidikan yaitu sebagai berikut :
  • Berfungsi untuk memperkuat penyesuaian diri dan mengembangkan diri dan pengembangan hubungan sosial.
  • Berfungsi untuk memberikan persiapan bagi peranan-peranan pekerjaan.
  • Berfungsi untuk pranata pemindahan warisan kebudayaan.
  • Berfungsi untuk mempersiapkan peranan sosial yang dikehendaki oleh individu.
Sarana merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat ataupun bahan agar suatu maksud dan tujuan dari suatu proses produksi dapat tercapai. Sedangkan pengertian dari prasarana adalah segala sesuatu sebagai penunjang utama tercapainya tujuan dari produksi.
Sarana dan prasaran dapat digunakan sebagai penunjang agar suatu kegiatan atau aktivitas dapat terlaksana secara efektif dan efisisen. Maka dari itu penggunaan sarana dan prasarana sangat penting demi tercapainya tujuan suatu kegiatan. Sarana dan rasaran juga sangat penting dalam dunia pendidikan. Terutama di dalam suatu pembelajaran.
Guru sebagai pendidik, dituntut untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya agar peserta didik dapat memperoleh ilmu pengetahuan dengan baik, efekti, efisien, dan lancar. Maka dari itu guru maupun peserta didik sangat memperlukan sarana dan prasarana sebagai penunjang pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Sarana dan prasaran dalam pembelajaran itu meliputi kelas, perpustakaan, atau aula sekolah, dll  sebagai prasarananya dan buku, papan tulis, spidol, LCD serta layar proyektor, dll sebagai sarananya. Dengan adanya sarana dan prasarana diharapkan pembelajran dapat terlaksana secara efektif dan efisien.
Ø  Penilaian Hasil Belajar Kimia
Assessment adalah suatu prosedur yang secara lengkap untuk memperoleh informasi tentang belajar siswa (observasi, penilaian kinerja atau proyek, tes tertulis) dan penentuan penilaian mengenai kemajuan pembelajaran (kata assessment yang digunakan pada edisi ini mempunyai arti yang sama dengan kata evaluasi pada edisi akhir, tetapi ditekankan pada banyaknya tipe tugas kinerja). Tes merupakan tipe khusus assessment yang terdiri dari sekumpulan pertanyaan yang dapat mengelola kesulitan dan memperbaikinya pada semua siswa.
Pengertian assessment menurut Robert L. Linn (2001; 6) adalah suatu prosedur dari banyak prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang kinerja siswa. Meliputi tes tertulis seperti jawaban uraian (contoh: essay), dan tes kinerja (contoh: percobaan laboratorium).
Pengertian assessment (to assess = assessment) merupakan kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan. Setelah pengukuran (measurement) kemudian dilakukan pembandingan (assessment) dan selanjutnya diambil sebuah keputusan (evaluation).
Kata measurement, assessment, dan evaluation dalam dunia pendidikan penggunaannya sering tertukar. Pada dunia pendidikan, measurement adalah menentukan karakteristik dari individu atau kelompok siswa. Dalam measurement kita tidak menghubungkan nilai dengan apa yang kita lihat. Bagaimanapun evaluation merupakan gabungan antara ukuran dengan informasi lain untuk menentukan suatu yang kita inginkan dan pentingnya yang kita amati. Evaluation adalah hasil dari measurement setelah nilai di dapat. Berikut Tabel 2.1 perbedaan antara measurement dan evaluation.
Tabel 2.1 Perbedaan antara Measurement dan Evaluation.
Measurement
Evaluation
Pelaksaan tes menunjukkan bahwa siswa tidak dapat mengungkapkan sedikit kata daripada seribu kata.
Pelaksanaan ini merupakan perhatian yang penting, karena merupakan penyebutan sejumlah kata yang merupakan prasyarat untuk unit selanjutnya, dalam tes tulis.
Guru melihat siswa berbicara di kelas tanpa ditunjuk terlebih dahulu.
Tindakan ini adalah harapan bagi siswa yang tidak aktif dalam diskusi.
Perbedaan antara measurement dan assessment sangat kecil. Assessment biasa digunakan sebagai gaya bahasa pilihan untuk measurement. Beberapa kalimat lebih baik menggunakan kata assessment dari pada measurement. measurement seakan terlihat seperti kwantitatif, tidak menarik, dan sedikit diingini. Sedangkan assessment adalah terlihat seperti kwalitatif dan dekat.
Assessment adalah suatu kegiatan dalam proses belajar mengajar yang dirancang oleh guru untuk mengetahui perkembangan belajar siswa. Berbeda dengan pengukuran hasil belajar, assessment sangat terkait dengan teori belajar. Berikut beberapa teori yang dijadikan landasan bagi pelaksanaan assessment:
a. Teori Fleksibilitas Kognitif dari R. Spiro (1990)
Teori fleksibilitas kognitif menjelaskan bahwa belajar menghasilkan kemampuan secara spontan dalam melakukan restrukturisasi pengetahuan yang telah dimiliki, guna merespon perubahan atau kenyataan yang dihadapi atau tuntutan situasi seketika. Berdasarkan teori belajar tersebut maka jelas bahwa assessment selalu dilakukan pada konteks belajar yang tidak terpisah dari situasi yang sedang dihadapi.
b. Teori belajar J. Bruner (1966)
Belajar adalah suatu proses aktif yang dilakukan oleh siswa dengan jelas mengkonstruksi sendiri gagasan baru atau konsep-konsep baru atas dasar konsep, pengetahuan, dan kemampuan yang telah dimiliki. Konsep belajar sebagai suatu proses pengembangan diri menurut struktur kognitif yang dimiliki oleh siswa secara mandiri dan dapat melebihi informasi yang diperoleh dalam teori belajar Bruner, menjadi dasar yang kuat untuk menumbuhkan prinsip-prinsip assessment kinerja.
c. Teori Experiential Learning yang dikembangkan oleh C. Rogers (1969).
Teori membedakan dua jenis belajar yaitu: 1) Cognitif Learning yaitu teori belajar yang berhubungan dengan pengetahuan akademik, dan 2) Experiential Learning yaitu teori belajar yang berhubungan dengan pengetahuan terapan.
d. Teori Kemampuan Multipel dari Howard Gardner
Menurut Gardner setidak-tidaknya ada tujuh kemampuan dasar, yaitu Visual-spatial, Bodily-kinesthetic, Musical rhytmical, Interpersonal, Intrapersonal, Logical Mathematical dan Verbal-linguistic. Teori ini memperlihatkan secara jelas, bahwa assessment hasil maupun proses belajar tidak hanya mengukur salah satu atau beberapa aspek kemampuan siswa, tetapi harus mengukur seluruh aspek kemampuan siswa. Sehingga tertutup kemungkinan bahwa assessment hanya dilakukan melalui tes baku, tetapi proses assessment (terutama assessment kinerja) menjadi fokus utama assessment.
Assessment adalah sebuah proses menyeluruh, jadi ini merupakan bagian dari kehidupan modern, sebagian orang bertanya apakah assessment ini prinsip-prinsip dan tehnik yang mendasar. Berikut adalah tujuan assessment:
a. Membantu untuk membuat penempatan siswa.
b. Untuk mendiagnosis kekuatan dan kelemahan individu.
c. Memberikan feedback pada guru dan siswa.
Feedback atau umpan balik diberikan melalui tes-tes formatif. Tes formatif yang dilakukan menjadi alat diagnosa untuk menentukan kemajuan atau keberhasilan peserta didik. Tes formatif menurut S. Nasution (dalam Martinis Yamin, 2007:129) adalah umpan balik yang memiliki fungsi bermacam-macam, seperti berikut:
1) Mempercepat anak belajar dan memberi motivasi untuk bekerja sungguh-sungguh dalam waktu secukupnya.
2) Untuk menjamin bahwa semua anak menguasai sepenuhnya syarat-syarat atau bahan apersepsi yang diperlukan untuk memahami bahan yang baru.
3) Berguna bagi mereka yang telah memiliki bahan apersepsi yang diperlukan untuk memberi rasa kepastian atas penguasaannya.
4) Bagi siswa yang masih kurang menguasai bahan pelajaran, tes formatif merupakan alat untuk mengungkapkan di mana sebetulnya letak kesulitannya.
5) Tes formatif dimaksud sebagai alat “assessment” yaitu memperoleh keterangan dengan maksud baik.
6) Memberikan umpan balik kepada guru agar mengetahui di mana tardapat kelemahan-kelemahan dalam metodenya mengajar.
d. Memberikan fakta-fakta untuk keputusan tentang sertifikat atau kelulusan.
e. Untuk evaluasi dan akuntabilitas.
f. Memberikan informasi pada orang tua dan yang lainnya tentang perkembangan siswa.
Proses assessment dalam pelaksanaannya dapat mengetahui perkembangan belajar siswa secara menyeluruh. Prosesnya akan efektif jika mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Dengan jelas menentukan penilaian pada proses assessment.
b. Memilih prosedur assessment karena harus relevan dengan karakteristik yang akan diukur. Prosedur assessment sering dipilih dengan didasarkan pada objektivitas dan keakuratan.
e. Assessment adalah cara untuk mancapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri.
Tujuan dari pembelajaran adalah membantu siswa untuk menerima tujuan pembelajaran yang diharapkan. Tujuan tersebut meliputi perubahan kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketika pembelajaran mulai berjalan, assessment merupakan bagian dari proses belajar-mengajar. Hasil pembelajaran yang diharapkan tidak akan tercapai tanpa tujuan pembelajaran, dan rencana pelaksanaan pembelajaran harus membawa perubahan bagi siswa, hal ini dapat melalui penilaian secara periodik dengan tes dan assessment yang lain. Keterkaitan antara belajar, mengajar, dan assessment dalam pendidikan akan terlihat jelas dengan mengikuti langkah-langkah preses pembelajaran sebagai berikut:
a. Memperkenal tujuan pembelajaran
Langkah pertama adalah pengajaran dan assessment merupakan penentu hasil belajar yang diharapkan dari kelas belajar, bagaimana cara berpikir dan bertindak ketika siswa telah mengikuti pembelajaran? Pengetahuan dan pemahaman apa yang harus siswa miliki? Keterampilan apa yang dapat siswa lakukan? Minat perilaku siswa apa yang harus berkembang? perubahan apa yang terjadi pada kebiasaan berpikir, karsa dan apa yang dilakukan setelah perubahan?. Kesimpulan, secara spesifik perubahan apa yang terjadi setelah kami berusaha? Dan apakah siswa akan senang ketika kami berhasil merubahnya?
b. Menyiapkan penilaian siswa
Ketika tujuan pembelajaran telah ditentukan, biasanya membuat beberapa assessment yang diperlukan oleh siswa agar hasil pembelajaran tercapai. Kemampuan dan keterampilan apakah yang siswa miliki dari hasil pengajaran? Apakah keterampilan dan pemahaman siswa berkembang? Penilaian keterampilan dan pengetahuan siswa dimulai dari kemungkinan dalam menjawab pertanyaan. Informasi ini sangat berguna pada rencana kerja untuk siswa dimana masih terdapat kekurangan pada keterampilan dan memodifikasi rencana pembelajaran yang dibutuhkan siswa. Berikut prinsip-prinsip penilaian:[13]
1) Proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian terpisah dari proses pembelajaran (a part of, not apart from, instruction).
2) Penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata (real word problems).
3) Penilaian harus menggunakan berbagai ukuran,metoda, dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman balajar.
4) Penilaian harus bersifat holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (kognitif, afektif, dan sensori-motorik).
Tujuan penilaian di kelas oleh guru hendaknya diarahkan pada hal berikut:
1) Keeping track, yaitu untuk menelusuri agar proses pembelajaran anak didik tetap sesuai dengan rencana.
2) Checkingup, yaitu untuk mengecek adakah kelemahan-kelemahan yang dialami anak didik dalam proses pembelajaran.
3) Finding-out, yaitu untuk mencari dan menemukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya kelemahan dan kesalahan dalam proses pembelajaran.
4) Summing-up, yaitu untuk menyimpulkan apakah anak didik telah mencapai kompetensi yang ditetapkan atau belum.
c. Menyediakan pembelajaran yang relevan
Relevansi pembelajaran antara mata pelajaran dan metode belajar dalam desain rencana pembelajaran untuk membentuk siswa dalam mencapai hasil pembelajaran yang diharapkan. Selama tahap pembelajaran, pengukuran, dan pemberian assessment. Hal tersebut berarti dapat memonitor kemajuan belajar dan mendiagnosis kesulitan belajar. Jadi, pelaksanaan assessment secara periodik selama pembelajaran dapat memberikan feedback untuk membantu cara memperbaiki pembelajaran baik secara individu maupun kelompok.
d. Menilai hasil yang diharapkan.
Tahap terakhir dalam proses pembelajaran adalah proses pembelajaran yaitu menentukan tahap belajar yang diterima oleh siswa. Penyempurnaan tahap ini dengan menggunakan assessment yang dapat mengukur hasil belajar yang diharapkan. Idealnya, tujuan pembelajaran akan jelas menentukan keinginan perubahan pada siswa dan instrumen assessment akan memberikan relevansi pengukuran atau gambaran tingkat perubahan yang terjadi. Kesesuaian prosedur assessment yang akan digunakan akan dapat mengetahui hasil yang diharapkan, dengan memperhatikan keterangan yang dapat dijadikan pertimbangan penting untuk keefektifan kelas assessment dan perhatian yang sungguh-sungguh untuk bab selanjutnya.
Penilaian ini harus memiliki kerangka berpikir (kognitif), sikap mental (afektif), dan keterampilan (psikomotor). Domain kognitif mencakup tujuan yang berhubungan dengan ingatan (recall), pengetahuan, dan kemampuan intelektual. Domain afektif mancakup tujuan-tujuan yang berhubungan dengan perubahan sikap, nilai, perasaan,dan minat. Domain psikomotor mencakup tujuan-tujuan yang berhubungan dengan manipulasi dan kemampuan gerak (motor).[15] Semua ini terangkum di dalam hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Hasil belajar yang dimiliki masing-masing siswa ini diharapkan mampu berwujud menjadi kecakapan hidup (life skill). Menurut Achjar kecakapan hidup (life skill) dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
1. Personal Skill (kecakapan personal)
a) Kesadaran diri (eksistensi diri)
b) Kecakapan berpikir (menggali informasi, mengolah informasi, mengambil keputusan, memecahkan masalah).
2. Social Skill (kecakapan sosial)
a) Kecakapan komunikasi lisan
b) Kecakapan komunikasi tertulis
c) Kecakapan tertulis
d) Kecakapan kerja sama
3. Academic Skill (kecakapan akademik)
a) Kecakapan mengidentifikasi variabel
b) Kecakapan menghubungkan variabel
c) Kecakapan merumuskan hipotesis
d) Kecakapan melakukan penelitian
4. Spiritual Skill
Kecakapan memahami posisi dan makna diri di hadapan Tuhan.
5. Vocational Skill (kecakapan keterampilan)
Kecakapan seseorang memberdayakan panca indera, intuisi dan penalaran dalam merefleksikan jalan pemikiran melalui lisan, tulisan, perbuatan dan atau memanfaatkan alat dan bahan untuk memperbaiki, membuat dan atau memodifikasi suatu produk.
Aspek-aspek kecakapan hidup yang akan dinilai sebagai bagian hasil belajar adalah: kecakapan berpikir, kesadaran diri, dan komunikasi.
e. Penggunaan hasil
Siswa dengan assessment, pada dasarnya sering dilihat keuntungan guru dan penyelenggara. Prosedur assessment yang digunakan dengan tepat dapat secara langsung meningkatkan hasil belajar siswa dengan: 1) Menjelaskan hasil belajar yang diharapkan. 2) Memberikan tujuan jangka pendek menjelang pelaksanaan. 3) Memberikan timbal balik mengenai pembelajaran. 4) Memberikan informasi untuk mengatasi kesulitan belajar dan memilih pengalaman pembelajaran untuk selanjutnya.
Walaupun tujuan tersebut mungkin bermanfaat baik dengan memberikan assessment secara berkala selama pembelajaran, assessment terakhir memberikan hasil yang diharapkan. Informasi yang dihasilkan dari tes dan tipe assessment yang lain juga meningkatkan pembelajaran. Seperti informasi yang dapat membantu mempertimbangkan: 1) Kepantasan dan tujuan pembelajaran itu dapat tercapai. 2) Kegunaan dari bahan-bahan pembelajaran. 3) Keefektifan metode pembelajaran. Prosedur assessment dapat memberikan secara langsung kemajuan dalam proses belajar-mengajar.
Hasil assessment juga dapat digunakan untuk menentukan angka dan laporan kemajuan siswa kepada orang tua. Sistematika yang digunakan pada banyak prosedur assessment menjadi dasar keobjektifan untuk laporan setiap kemajuan belajar siswa. Selain untuk menilai dan melaporkan, hasil assessment juga dapat berguna untuk keperluan berbagai administrasi dan keperluan pimpinan, pengembangan kurikulum, membantu siswa dalam belajar, mengambil kejuruan, dan keefektifan program sekolah dalam penilaian.
Prosedur assessment meliputi: tehnik observasi, penilaian, dan laporan individu. Observasi secara langsung merupakan cara yang terbaik untuk menilai beberapa aspek kemajuan belajar. Penggunaan catatan anecdotal dapat dilakukan guru melalui observasi informal yang dapat menjadi sumber informasi tentang perkembangan siswa. Pendapat dan laporan dapat dibuat oleh siswa sendiri, selain itu dapat juga menjadi sumber yang berharga dalam dalam perkembangan pembelajaran. (1) pendapat tentang penggunaan penilaian perkembangan baik individu maupun kelompok. (2) metode pelaporan memberikan keterangan secara lengkap tentang yang dibutuhkan siswa, permasalahan, penyesuaian diri, minat, dan sikap.