Blog ini dituliskan beradasarkan UTS MK KAPITA SELEKTA mengenai Upaya mengatasi persoalan pembelajaran kimia 😊
Semoga Bermanfaat 🙏
PEMBELAJARAN KIMIA
Pelajaran
kimia merupakan salah satu bidang mata pelajaran IPA yang mempelajari tentang
fenomena yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Tujuan pembelajaran kimia
adalah agar peserta didik dapat menguasai konsep-konsep, bersikap ilmiah serta
dapat memahami konsep-konsep kimia yang pada akhirnya dapat menyelesaikan
masalah yang ada didalamnya.
Pelajaran
kimia sering dianggap membosankan, sulit serta abstrak. Sehingga banyak peserta
didik yang kurang tertarik untuk mempelajarinya. Dengan pola pikir yang
demikian, peserta didik akan sulit menerima pelajaran yang diajarkan. Untuk
menghilangkan pola pikir tersebut peran guru sangat penting terutama dalam
melakukan variatif model pembelajaran yang menarik bagi peserta didik saat
pembelajaran berlangsung. Dalam proses pembelajaran guru tidak hanya sebagai
transfer informasi atau konsep-konsep, akan tetapi bagaimana informasi atau
konsep-konsep tersebut betul bisa dipahami serta tertanam pada benak peserta
didik itu sendiri. Apabila dalam proses pembelajaran peserta didik kurang
terlibat saat mencari, dan menemukan pengetahuan serta ketrampilan, akan
mengakibatkan pembelajaran tersebut menjadi membosankan dan peserta didik tidak
berminat sehingga mudah beralih ke aktifitas yang lainnya saat pembelajaran
berlangsung. Masalah seperti ini juga akan berdampak pada hasil belajar peserta
didik.
Pendidikan
Kimia sebagai suatu bidang ilmu, sebagaimana ilmu-ilmu yang lain, memiliki
objek atau bahan kajian (aspek ontologi), memiliki cara memperoleh (aspek
epistemologi), dan kegunaan (aspek aksiologi). Sebagai bidang ilmu dari ilmu
pendidikan, pendidikan kimia mempunyai bahan kajian searah dengan ilmu
pendidikan (Konsorsium, 1991:6), yaitu:
Ø Kurikulum,
yang meliputi teori tentang pengembangan kurikulum kimia, organisasi kurikulum
kimia, isi kurikulum kimia, dan model-model pengem-bangan kurikulum kimia.
Ø Peserta
didik dan perbuatan belajar, yang meliputi teori tentang karakteristik peserta
didik, jenis-jenis dan cara belajar kimia, hirarkhi proses belajar kimia, dan kondisi-kondisi
belajar kimia
Ø Pendidik
dan perbutan mendidik/mengajar, yang meliputi teori tentang karakteristik
pendidik kimia, karakteristik perbuatan mendidik atau mengajar kimia,
model-model mendidik atau mengajar kimia, metode atau teknik mendidik atau
menga-jar kimia, dan sistem pengelolaan kelas.
Ø Lingkungan
Pendidikan, yang meliputi teori tentang pranata pendidikan kimia, perencanaan
dan pengelolaan pendidikan kimia, bimbingan dan penyuluhan atau bimbingan
karir, dan sarana atau media pendidikan kimia.
Ø Sistem
asesmen atau penilaian, yang meliputi teori tentang model-model penilaian hasil
belajar kimia, teknik penilaian hasil belajar kimia, dan instrumen penilaian
hasil belajar kimia.
Ø Kurikulum Kimia
Kurikulum
Jurusan Kimia adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi, bahan
kajian, maupun bahan pelajaran serta cara penyampaiannya, dan penilaian yang
digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di Jurusan
Kimia. Kurikulum yang dilaksanakan selama empat tahun terakhir ini adalah
kurikulum Jurusan Kimia yang mengikuti Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
sesuai dengan Kepmendiknas No. 045/U/2002. Kurikulum ini memuat kompetensi
lulusan secara umum (tidak secara eksplisit menyebutkan kompetensi utama atau
pendukung atau kompetensi lainnya) yang dapat mendukung tercapainya tujuan,
terlaksananya misi dan terwujudnya visi jurusan.
Pada
tahun 2013 dilakukan evaluasi, revisi dan pengembangan kurikulum untuk
menyesuaikan dengan sistem Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan
juga mengikuti Permen/Kepmen dan kebutuhan lapangan dan telah menghasilkan
Kurikulum Jurusan Kimia 2013 yang mulai diberlakukan pada mahasiswa baru
angkatan 2014/2015. Kompetensi lulusan yang dicanangkan dalam Kurikulum 2013
meliputi kompetensi utama, pendukung dan lainnya.
Model-model
pengembangan kurikulum kimia :
·
Model Tyler
·
Model Zais
·
Model Grass Rot
·
Model Beauchamp
·
Model Hilda Taba
·
Model seller dan Miler
Ø Peserta didik dan perbuatan belajar
kimia
Setiap
siswa pada prinsipnya berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik
yang memuaskan. Namun kenyataannya bahwa siswa memiliki perbedaan dalam hal
kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan dan
pendekatan belajar yang terkadang sangat mencolok antara seorang siswa dengan
siswa lainnya. Sementara itu, sekolah umumnya hanya ditujukan pada siswa yang
berkemampuan rata-rata, sehingga siswa yang berkemampuan kurang diabaikan.
Dengan demikian, siswa yang berkategori “di luar rata-rata” itu (sangat pintar
dan sangat bodoh) tidak mendapat kesempatan yang memadai untuk berkembang
sesuai dengan kapasitasnya. Dari sini kemudian timbullah apa yang disebut
kesulitan belajar, yang tidak hanya menimpa siswa berkemampuan rendah saja,
tetapi juga dialami oleh siswa yang berkemampuan rata-rata (normal) disebabkan
faktor-faktor tertentu yang menghambat tercapainya kinerja akademik. Faktor-faktor
kesulitan belajar tersebut terdiri dari faktor internal dan eksternal siswa.
Faktor internal meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sedangkan
faktor eksternal siswa meliputi lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah.
Wiseman
(dalam Rumansyah, 2002: 172) mengemukakan bahwa ilmu kimia merupakan salah satu
pelajaran tersulit bagi kebanyakan siswa menengah dan mahasiswa. Kesulitan
mempelajari ilmu kimia ini terkait dengan ciri-ciri ilmu kimia itu sendiri yang
disebutkan oleh Kean dan Middlecamp (dalam Rumansyah, 2002: 172) sebagai berikut.
a. Sebagian besar ilmu
kimia bersifat abstrak. Atom, molekul, dan ion merupakan materi dasar kimia
yang tidak nampak, yang menuntut siswa dan mahasiswa membayangkan keberadaan
materi tersebut tanpa mengalaminya secara langsung. Karena atom merupakan pusat
kegiatan kimia, maka walaupun kita tidak melihat atom secara langsung, tetapi
dalam angan-angan kita dapat membentuk suatu gambar untuk mewakili sebuah atom,
misalnya sebuah atom oksigen kita gambarkan sebagai bulatan.
b. Ilmu kimia merupakan
penyederhanaan dari yang sebenarnya. Kebanyakan objek yang ada di dunia ini
merupakan campuran zat-zat kimia yang kompleks dan rumit. Agar mudah
dipelajari, maka pelajaran kimia dimulai dari gambaran yang disederhanakan,
dimana zat-zat dianggap murni atau hanya dua atau tiga zat saja. Dalam
penyederhanaannya diperlukan pemikiran dan pendekatan tertentu agar siswa atau
mahasiswa tidak mengalami salah konsep dalam menerima materi yang diajarkan
tersebut.
c. Sifat ilmu kimia
berurutan dan berkembang dengan cepat.
Seringkali topik-topik
ilmu kimia harus dipelajari dengan urutan tertentu. Misalnya, kita tidak dapat
menggabungkan atom-atom untuk membentuk molekul, jika atom karakteristiknya
tidak dipelajari terlebih dahulu. Di samping itu, perkembangan ilmu kimia itu
sangat cepat, seperti pada bidang biokimia yang menyelidiki tentang rekayasa
genetika, kloning, dan sebagainya. Hal ini menuntut kita semua untuk lebih
cepat tanggap dan selektif dalam menerima semua kemajuan tersebut.
d. Ilmu kimia tidak
hanya sekedar memecahkan soal.
Memecahkan soal-soal
yang terdiri dari angka-angka (soal numerik) merupakan bagian yang penting
dalam mempelajari kimia. Namun, kita juga harus mempelajari deskripsi seperti
fakta kimia, aturan-aturan kimia, peristilahan kimia, dan lain-lain.
e. Bahan/materi yang
dipelajari dalam ilmu kimia sangat banyak.
Dengan banyaknya bahan
yang harus dipelajari, siswa ataupun mahasiswa dituntut untuk dapat
merencanakan belajarnya dengan baik, sehingga waktu yang tersedia dapat
digunakan seefisien mungkin.
Menurut Arifin (dalam
Rumansyah, 2002: 172), kesulitan siswa dalam mempelajari ilmu kimia dapat
bersumber pada:
a. Kesulitan dalam
memahami istilah.
Kesulitan ini timbul
karena kebanyakan siswa hanya hafal akan istilah dan tidak memahami dengan
benar maksud dari istilah yang sering digunakan dalam pelajaran kimia.
b. Kesulitan dalam
memahami konsep kimia.
Kebanyakan konsep-konsep
dalam ilmu kimia maupun materi kimia secara keseluruhan merupakan konsep atau
materi bersifat abstrak.
c. Kesulitan Angka.
Dalam pengajaran kimia
siswa dituntut untuk terampil dalam rumusan/operasi matematis. Namun, sering
dijumpai siswa yang kurang memahami rumusan tersebut. Hal ini disebabkan karena
siswa tidak mengetahui dasar-dasar matematika dengan baik, siswa tidak hafal
rumusan matematika yang banyak digunakan dalam perhitungan-perhitungan kimia,
sehingga siswa tidak terampil dalam menggunakan operasi-operasi dasar
matematika.
Ø Pendidik dan perbuatan
mendidik/mengajar kimia
Banyak
guru yang menguasai materi kimia secara ekspert (ahli di bidangnya), namun
masih banyak yang belum bisa bagaimana menyampaikan (mengajarkan) materi
tersebut kepada siswa secara efektif dan efesien. Salah satu upaya agar
pemeblajaran dapat berjalan efektif, maka diperlukan pendekatan-pendekatan yang
tepat sehingga siswa dapat belajar dengan tuntas dan bermakna.
Pendekatan merupakan bagian dari strategi dan metode guru dalam melakukan pembelajaran agar siswa dapat belajar lebih mandiri. Kenapa demikian karena strategi menurut Drs. Sukro makmun, M.Si yang menjadi narasumber pada mmata diklat ini mengatakan bahwa “pengalaman belajar atau kegiatan yang dilakukan oleh siswa dan atau guru untuk mencapai kompetensi yang telah ditargetkan”. Lebih jauh dikatakan bahwa agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik dan terukur diperlukan metode pembelajaran. Menurut Sukron metode merupakan “cara atau prosedur yang dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif”.
Selanjutnya dikatakan bahwa Pendekatan terbagi atas Direct Teaching (pesan-pesan pembelajaran disampaikan secara langsung oleh guru kepada siswa) dan Indirect Teaching (Siswa memperoleh pesan-pesan pembelajaran, tetapi tidak secara langsung didapat dari guru , melainkan melalui suatu proses yang dilakukan sendiri oleh siswa.
Dengan Indirect Teaching yang aktif adalah guru (teacher active teaching) karena menggunakan metode ceramah. Sedangkan dengan Indirect Teaching yang aktif adalah siswa (student active learning) karena cendrung menggunakan metode Metode tanya jawab, eksperimen, tugas, diskusidll.
Model pembelajaran Indirect Teaching:
Siswa
aktif belajar (melakukan) –> learning by doing –> student active learning
–>CBSA membaca, mengamati, menghitung, mengukur, mengerjakan tugas, latihan,
bertanya, berdiskusi, meneliti, meramalkan, menyimpulkan, melaporkan, melakukan
percobaan, studi kasus, survey dll, 2. Guru sebagai fasilitator, motivator
menyediakan alat, menyiapkan lembar kerja, mengembangkan format observasi,
mengembangkan pedoman wawancara, membuat prosedur atau langkah-langkah kerja,
membuat aturan main, mengorganisir kegiatan, memberi umpan balik, memberi
penguatan dll, 3. Variasi dalam sumber belajar buku, majalah, surat
kabar, nara sumber, museum, rumah sakit, kantor pos, pusat industri, kebun
binatang, hutan, laut, perusahaan, kantor pemerintah dll, 4. Proses sama
pentingnya dengan hasil. Target pembelajaran bukan semata-mata siswa menguasai
informasi atau konsep, tetapi juga menguasai cara atau proses untuk memperoleh
informasi/konsep tersebut. Jadi inilah yang dikenal dengan istilah Pendekatan
Keterampilan Proses (PKP) yang berbasis Contekstual Learning (CTL).
Model – model
pembelajaran kimia yang dapat digunakan ketika pemebelajaran berlangsung adalah
:
Model
Pembelajaran Konstruktivis. Model ini dapat digunakan untuk mengajarkan konsep
pembentukan reaksi kimia, ikatan kimia, system periodik, reaksi pembatas dll.
Model
STM (Sains-Teknologi-Masyarakat). Model ini adalah dengan menggabungkan konsep
kimia dengan realitas yang ada di lingkugan masyarakat, seperti pentingnya
mangatasi pencemaran lingkungan. Dimasyarakat banyak yang terkait tentang hal
ini. Misalnya lingkungan bersih bernilai mulia disisi agama, menjaga kebersihan
menggambarkan prilaku yang baik. Dari sisi ekonomi lingkungan bersih tidak
banyak menimbulkan biaya pemeliharaan alias hemat dll.
Model
Pembelajaran Kooperatif. Model ini siswa dapat melakukan diskusi untuk
menemukan indicator alam, setelah melakukan percobaan secara berkelompok dengan
berbagai bahan alam.
Model
Pembelajaran Inquiri. Para siswa bisa menguji air sadah dan bukan sadah dan
bagaimana cara menghilngkan dari kesadahan dengan melakukan praktikum.
Model
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Base Learning). Guru memberikan
masalah, misalnya diberikana beberapa larutan tanpa label, siswa dapat
mengidentifikasi larutan yang bersifat asam, basa dan garam.
Model
Pembelajaran Langsung (Direct Instruction). Dengan langkah sebagai berikut :
1). Temukan –> satu “hot spot” (pusat perhatian), 2). Observasi –> pengamatan/identifikasi
data/info tentang hot spot, 3). Diskusi –> questioning, discussing, sharing,
4). Hasil –>hasil diskusi/pemecahan soal, 5. Laporanà sajian laporan (hasil)
: lisan dan atau tertulis, 6. Display –> laporan dapat berupa poster,
artikel, gambar, dll –> Hasil kelompok.
Model
Pembelajaran berbasis Teknologi Informasi. Sebenarya model ini sangat mudah
digunakan bila guru sudah menguasai ICT (Information Teknology dan Comunikation).
Dalam bahasa sedehanya adalah pembelajara menggunakan media computer. Hal
ini dapat membantu guru dalam menjelaskan materi seperti reaksi inti lewat
animasi, kecepatan reaksi, reaksi-reaksi uji nyala, reaksi laruatan-larutan
pekat dan lain-lain. Apalagi sekarang sudah banyak animasi-animasi yang
tersedia. Guru dapat dengan mudah menggunakannya dalam pembelajaran.
Sebenarnya
masih menurut Sukro, bahwa model pendekatan Kooperatif banyak jenisnya. Guru tinggal
memilih model-mana yang paling pas untuk membahas suatu topik. Misalnya model cooperative
script (siswa berpasangan untuk menyelesaikan masalah yang diberikan guru),student
teams-achievement divisions (stad) (siswa belajar dalam kelompok untuk menyelesaikan
masalah 3 – 5 orang), jigsaw (model tim ahli). model pembelajaran yang lain
yang perlu diketahui oleh para guru adalah TGT (team games tournament). 4
langkah dalam TGT adaalah : (a) identifikasi masalah, (b) pembahasan masalah
dalam kelompok, (c) presentasi hasil bahasan kelompok (turnamen) dan, (d)
penguatan guru model ini sangat cocok digunakan untuk pembelajaran Remedial
Teaching. (Bhr)
Cara Mengajar Kimia
Yang Menyenangkan
Pelajaran
kimia dianggap sebagian besar siswa menjadi pelajaran yang sulit dipahami dan
dimengerti.Permasalahan pembelajaran kimia yang sampai saat ini belum mendapat
pemecahan secara tuntas adalah adanya anggapan pada diri siswa bahwa pelajaran
ini sulit dipahami dan dimengerti. Ini menyebabkan pelajaran kimia tidak disukai,
bahkan sebagian siswa bersikap antipati dan menganggapnya sebagai momok.
Pertama,
metode pembelajaran kimia yang diterapkan guru bersifat monoton dan kurang
variasi. Ini menjadikan belajar kimia kurang bermakna dan tidak menarik bagi
siswa.
Kedua,
sebagian besar siswa terbawa opini yang terbentuk di tengah-tengah masyarakat
bahwa pelajaran kimia itu sulit. Hal itu semakin memperkuat anggaan siswa
terhadap pelajaran kimia sebagai cabang ilmu yang sulit dipelajari dan
dipahami.
Permasalahan
ini mendorong dia membuat metode pembelajaran kimia yang menyenangkan,
mengasyikkan, dan mencerdaskan. Metode tersebut diberi nama model pembelajaran
kimia rekreasi. Metode ini mengedepankan usaha menciptakan situasi belajar
kimia bernuansa gembira yang dapat membuat siswa merasa asyik, dilakukan di
luar maupun di dalam kelas.
Dalam
metode ini, dia menerapkan lima macam pembelajaran kimia rekreasi. Yakni,belajar
kimia sambil bernyanyi puitisisasi kimia, kuis kimia, karyawisata atau
berkunjung ke objek wisata Menghapal delapan golongan unsur dengan kalimat
jenaka (jembatan keledai).
Bernyanyi
sambil belajar kimia, contohnya. Metode ini menggunakan pendekatan lagu atau
nyanyian. Konsep dan sub konsep yang ada pada suatu pokok bahasan dirumuskan
dalam bentuk bait lagu yang iramanya diambil dari lagu-lagu yang sudah dikenal
siswa. Misalnya, siswa kelas I yang biasanya kesulitan memahami konsep ikatan
ion dan proses terjadinya ion, ditanamkan lewat lagu Angin Mammiri.
Demikian
pula dengan puitisasi kimia. Ini menggunakan pendekatan keindahan puisi. Siswa
diberi tugas membaca pokok bahasan yang sedang dipelajari kemudian guru
merumuskan konsep yang akan ditanamkan dalam bentuk puisi. Pada saat
pembelajaran, siswa diminta membaca puisi di depan kelas. Setelah itu, guru
menjelaskan makna puisi. ”Berdasarkan pengalaman penerapan model pembelajaran
ini, antusias siswa meningkat, di samping dapat menggali dan menyalurkan bakat
siswa di bidang seni sastra,” tuturnya.
Contextual
Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan
bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya
terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan
kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan
fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL
disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Dalam
Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih
memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan
dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar
melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat
fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi
oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan
perkembangan jaman.
Proses
belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan,
kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu
makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya
untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar; tugas
guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama
dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya
lingkungan belajar; siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru
mengarahkan dari dekat.
Komponen
pembelajaran yang efektif meliputi:
Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
Tanya
jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru
maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada
siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa,
seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat
diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru,
atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
Inkuiri,
merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari
melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori
atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis,
pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
Komunitas
belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah
komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud
dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli
ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya,
beekrja dengan masyarakat.
Pemodelan,
dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat
mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan.
Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan
satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media
cetak dan elektronik.
Refleksi,
yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman
yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang
belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun
realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari
itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai
pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
Penilaian
otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan,
ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada;
pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan
pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak
hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan
dan ketrampilan yang diperoleh siswa.
Kembangkan
pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,
menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru.
Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat
keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar
dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran.
Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang
betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.
Ø Lingkungan Pendidikan Kimia
Pranata
pendidikan adalah suatu organisasi sosial dalam rangka prosedur
sosialisasi dan enkulturasi untuk mengantar orang ke dalam kehidupan
bermasyarakat dan berbudaya, juga mengenai kelangsungan eksistensi dan
safeguard masyarakat dan kebudayaannya.
Melalui sebuah organisasi
pendidikan sosialisasi dan enkulturasi diselenggarakan oleh masyarakat umum,
dan karena itu hidup dari orang-orang dan budaya mereka mampu bertahan
hidup walaupun anggota individu sudah berganti dan berubah karena
kelahiran, kematian, dan perpindahan.
Pranata pendidikan memumpunyai
pedoman dan disiplin alam ditargetkan untuk mempersiapkan siswa mereka melalui
pendidikan pengajaran dan teknologi untuk bisa berkompetensi dalam hidup,
dalam posisi untuk percaya ilmiah dan logis tentang segala sesuatu untuk bisa
memilah hal-hal yang buruk dan baik. Pranata pendidikan yang terkandung
dalam institusi dasar.
Dengan pranata pendidikan,
konsekuensi yang diharapkan dari sosialisasi akan membentuk sebuah sikap mental
yang benar hidup di jaman sekarang dan yang akan datang.
Fungsi pranata pendidikan yaitu sebagai berikut :
- Berfungsi untuk memperkuat penyesuaian diri dan mengembangkan diri dan pengembangan hubungan sosial.
- Berfungsi untuk memberikan persiapan bagi peranan-peranan pekerjaan.
- Berfungsi untuk pranata pemindahan warisan kebudayaan.
- Berfungsi untuk mempersiapkan peranan sosial yang dikehendaki oleh individu.
Sarana merupakan segala sesuatu
yang dapat digunakan sebagai alat ataupun bahan agar suatu maksud dan tujuan
dari suatu proses produksi dapat tercapai. Sedangkan pengertian dari prasarana
adalah segala sesuatu sebagai penunjang utama tercapainya tujuan dari produksi.
Sarana dan prasaran dapat
digunakan sebagai penunjang agar suatu kegiatan atau aktivitas dapat terlaksana
secara efektif dan efisisen. Maka dari itu penggunaan sarana dan prasarana
sangat penting demi tercapainya tujuan suatu kegiatan. Sarana dan rasaran juga
sangat penting dalam dunia pendidikan. Terutama di dalam suatu pembelajaran.
Guru sebagai pendidik, dituntut
untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya agar peserta didik dapat memperoleh ilmu pengetahuan dengan baik,
efekti, efisien, dan lancar. Maka dari itu guru maupun peserta didik sangat
memperlukan sarana dan prasarana sebagai penunjang pembelajaran agar tujuan pembelajaran
dapat tercapai secara efektif dan efisien. Sarana dan prasaran dalam
pembelajaran itu meliputi kelas, perpustakaan, atau aula sekolah, dll
sebagai prasarananya dan buku, papan tulis, spidol, LCD serta layar proyektor,
dll sebagai sarananya. Dengan adanya sarana dan prasarana diharapkan
pembelajran dapat terlaksana secara efektif dan efisien.
Ø
Penilaian
Hasil Belajar Kimia
Assessment adalah suatu prosedur
yang secara lengkap untuk memperoleh informasi tentang belajar siswa
(observasi, penilaian kinerja atau proyek, tes tertulis) dan penentuan
penilaian mengenai kemajuan pembelajaran (kata assessment yang digunakan
pada edisi ini mempunyai arti yang sama dengan kata evaluasi pada edisi akhir,
tetapi ditekankan pada banyaknya tipe tugas kinerja). Tes merupakan tipe khusus
assessment yang terdiri dari sekumpulan pertanyaan yang dapat mengelola
kesulitan dan memperbaikinya pada semua siswa.
Pengertian assessment menurut Robert L.
Linn (2001; 6) adalah suatu prosedur dari banyak prosedur yang digunakan untuk
mendapatkan informasi tentang kinerja siswa. Meliputi tes tertulis seperti
jawaban uraian (contoh: essay), dan tes kinerja (contoh: percobaan
laboratorium).
Pengertian assessment (to assess =
assessment) merupakan kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap
hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf
pengambilan keputusan. Setelah pengukuran (measurement) kemudian
dilakukan pembandingan (assessment) dan selanjutnya diambil sebuah
keputusan (evaluation).
Kata measurement, assessment, dan evaluation
dalam dunia pendidikan penggunaannya sering tertukar. Pada dunia pendidikan, measurement
adalah menentukan karakteristik dari individu atau kelompok siswa. Dalam measurement
kita tidak menghubungkan nilai dengan apa yang kita lihat. Bagaimanapun evaluation
merupakan gabungan antara ukuran dengan informasi lain untuk menentukan suatu
yang kita inginkan dan pentingnya yang kita amati. Evaluation adalah
hasil dari measurement setelah nilai di dapat. Berikut Tabel 2.1
perbedaan antara measurement dan evaluation.
Tabel 2.1 Perbedaan
antara Measurement dan Evaluation.
Measurement
|
Evaluation
|
Pelaksaan tes menunjukkan bahwa siswa tidak dapat
mengungkapkan sedikit kata daripada seribu kata.
|
Pelaksanaan ini merupakan perhatian yang penting, karena
merupakan penyebutan sejumlah kata yang merupakan prasyarat untuk unit
selanjutnya, dalam tes tulis.
|
Guru melihat siswa berbicara di kelas tanpa ditunjuk
terlebih dahulu.
|
Tindakan ini adalah harapan bagi siswa yang tidak aktif
dalam diskusi.
|
Perbedaan antara measurement
dan assessment sangat kecil. Assessment biasa digunakan sebagai gaya bahasa
pilihan untuk measurement. Beberapa
kalimat lebih baik menggunakan kata assessment
dari pada measurement. measurement seakan terlihat seperti kwantitatif,
tidak menarik, dan sedikit diingini. Sedangkan assessment
adalah terlihat seperti kwalitatif dan dekat.
Assessment adalah suatu kegiatan dalam proses
belajar mengajar yang dirancang oleh guru untuk mengetahui perkembangan belajar
siswa. Berbeda dengan pengukuran hasil belajar, assessment
sangat terkait dengan teori belajar. Berikut beberapa teori yang dijadikan
landasan bagi pelaksanaan assessment:
a. Teori Fleksibilitas Kognitif dari
R. Spiro (1990)
Teori fleksibilitas kognitif menjelaskan bahwa belajar
menghasilkan kemampuan secara spontan dalam melakukan restrukturisasi
pengetahuan yang telah dimiliki, guna merespon perubahan atau kenyataan yang
dihadapi atau tuntutan situasi seketika. Berdasarkan teori belajar tersebut
maka jelas bahwa assessment selalu
dilakukan pada konteks belajar yang tidak terpisah dari situasi yang sedang
dihadapi.
b. Teori belajar J. Bruner (1966)
Belajar adalah suatu proses aktif yang dilakukan oleh siswa
dengan jelas mengkonstruksi sendiri gagasan baru atau konsep-konsep baru atas
dasar konsep, pengetahuan, dan kemampuan yang telah dimiliki. Konsep belajar
sebagai suatu proses pengembangan diri menurut struktur kognitif yang dimiliki
oleh siswa secara mandiri dan dapat melebihi informasi yang diperoleh dalam
teori belajar Bruner, menjadi dasar yang kuat untuk menumbuhkan prinsip-prinsip
assessment kinerja.
c. Teori Experiential Learning
yang dikembangkan oleh C. Rogers (1969).
Teori membedakan dua jenis belajar yaitu: 1) Cognitif
Learning yaitu teori belajar yang berhubungan dengan pengetahuan akademik,
dan 2) Experiential Learning yaitu teori belajar yang berhubungan dengan
pengetahuan terapan.
d. Teori Kemampuan Multipel dari
Howard Gardner
Menurut Gardner setidak-tidaknya ada tujuh kemampuan dasar,
yaitu Visual-spatial, Bodily-kinesthetic, Musical rhytmical, Interpersonal,
Intrapersonal, Logical Mathematical dan Verbal-linguistic. Teori ini
memperlihatkan secara jelas, bahwa assessment
hasil maupun proses belajar tidak hanya mengukur salah satu atau beberapa aspek
kemampuan siswa, tetapi harus mengukur seluruh aspek kemampuan siswa. Sehingga
tertutup kemungkinan bahwa assessment
hanya dilakukan melalui tes baku, tetapi proses assessment
(terutama assessment kinerja) menjadi fokus utama assessment.
Assessment adalah sebuah proses menyeluruh,
jadi ini merupakan bagian dari kehidupan modern, sebagian orang bertanya apakah
assessment ini prinsip-prinsip dan
tehnik yang mendasar. Berikut adalah tujuan assessment:
a. Membantu untuk membuat penempatan
siswa.
b. Untuk mendiagnosis kekuatan dan
kelemahan individu.
c. Memberikan feedback pada
guru dan siswa.
Feedback atau umpan balik diberikan melalui
tes-tes formatif. Tes formatif yang dilakukan menjadi alat diagnosa untuk
menentukan kemajuan atau keberhasilan peserta didik. Tes formatif menurut S.
Nasution (dalam Martinis Yamin, 2007:129) adalah umpan balik yang memiliki
fungsi bermacam-macam, seperti berikut:
1) Mempercepat anak belajar dan
memberi motivasi untuk bekerja sungguh-sungguh dalam waktu secukupnya.
2) Untuk menjamin bahwa semua anak
menguasai sepenuhnya syarat-syarat atau bahan apersepsi yang diperlukan untuk
memahami bahan yang baru.
3) Berguna bagi mereka yang telah
memiliki bahan apersepsi yang diperlukan untuk memberi rasa kepastian atas
penguasaannya.
4) Bagi siswa yang masih kurang
menguasai bahan pelajaran, tes formatif merupakan alat untuk mengungkapkan di
mana sebetulnya letak kesulitannya.
5) Tes formatif dimaksud sebagai
alat “assessment” yaitu memperoleh keterangan dengan maksud baik.
6) Memberikan umpan balik kepada
guru agar mengetahui di mana tardapat kelemahan-kelemahan dalam metodenya
mengajar.
d. Memberikan fakta-fakta untuk
keputusan tentang sertifikat atau kelulusan.
e. Untuk evaluasi dan akuntabilitas.
f. Memberikan informasi pada orang
tua dan yang lainnya tentang perkembangan siswa.
Proses assessment dalam pelaksanaannya dapat mengetahui perkembangan belajar
siswa secara menyeluruh. Prosesnya akan efektif jika mengikuti prinsip-prinsip
sebagai berikut:
a. Dengan jelas menentukan penilaian
pada proses assessment.
b. Memilih prosedur assessment karena
harus relevan dengan karakteristik yang akan diukur. Prosedur assessment
sering dipilih dengan didasarkan pada objektivitas dan keakuratan.
e. Assessment adalah cara untuk mancapai tujuan, bukan tujuan itu
sendiri.
Tujuan dari pembelajaran
adalah membantu siswa untuk menerima tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Tujuan tersebut meliputi perubahan kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketika
pembelajaran mulai berjalan, assessment merupakan bagian dari proses
belajar-mengajar. Hasil pembelajaran yang diharapkan tidak akan tercapai tanpa
tujuan pembelajaran, dan rencana pelaksanaan pembelajaran harus membawa
perubahan bagi siswa, hal ini dapat melalui penilaian secara periodik dengan
tes dan assessment yang lain. Keterkaitan antara belajar, mengajar, dan
assessment dalam pendidikan akan terlihat jelas dengan mengikuti
langkah-langkah preses pembelajaran sebagai berikut:
a. Memperkenal tujuan pembelajaran
Langkah pertama adalah pengajaran dan assessment merupakan penentu hasil belajar yang
diharapkan dari kelas belajar, bagaimana cara berpikir dan bertindak ketika
siswa telah mengikuti pembelajaran? Pengetahuan dan pemahaman apa yang harus
siswa miliki? Keterampilan apa yang dapat siswa lakukan? Minat perilaku siswa
apa yang harus berkembang? perubahan apa yang terjadi pada kebiasaan berpikir,
karsa dan apa yang dilakukan setelah perubahan?. Kesimpulan, secara spesifik
perubahan apa yang terjadi setelah kami berusaha? Dan apakah siswa akan senang
ketika kami berhasil merubahnya?
b. Menyiapkan penilaian siswa
Ketika tujuan
pembelajaran telah ditentukan, biasanya membuat beberapa assessment yang
diperlukan oleh siswa agar hasil pembelajaran tercapai. Kemampuan dan
keterampilan apakah yang siswa miliki dari hasil pengajaran? Apakah
keterampilan dan pemahaman siswa berkembang? Penilaian keterampilan dan pengetahuan
siswa dimulai dari kemungkinan dalam menjawab pertanyaan. Informasi ini sangat
berguna pada rencana kerja untuk siswa dimana masih terdapat kekurangan pada
keterampilan dan memodifikasi rencana pembelajaran yang dibutuhkan siswa.
Berikut prinsip-prinsip penilaian:[13]
1) Proses penilaian harus merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian terpisah
dari proses pembelajaran (a part of, not apart from, instruction).
2) Penilaian harus mencerminkan
masalah dunia nyata (real word problems).
3) Penilaian harus menggunakan
berbagai ukuran,metoda, dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan
esensi pengalaman balajar.
4) Penilaian harus bersifat holistik
yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (kognitif, afektif, dan
sensori-motorik).
Tujuan penilaian di kelas oleh guru
hendaknya diarahkan pada hal berikut:
1) Keeping track, yaitu untuk
menelusuri agar proses pembelajaran anak didik tetap sesuai dengan rencana.
2) Checking–up, yaitu
untuk mengecek adakah kelemahan-kelemahan yang dialami anak didik dalam proses
pembelajaran.
3) Finding-out, yaitu untuk
mencari dan menemukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya kelemahan dan
kesalahan dalam proses pembelajaran.
4) Summing-up, yaitu untuk
menyimpulkan apakah anak didik telah mencapai kompetensi yang ditetapkan atau
belum.
c. Menyediakan pembelajaran yang
relevan
Relevansi pembelajaran antara mata
pelajaran dan metode belajar dalam desain rencana pembelajaran untuk membentuk
siswa dalam mencapai hasil pembelajaran yang diharapkan. Selama tahap
pembelajaran, pengukuran, dan pemberian assessment. Hal tersebut berarti dapat memonitor kemajuan belajar dan
mendiagnosis kesulitan belajar. Jadi, pelaksanaan assessment secara
periodik selama pembelajaran dapat memberikan feedback untuk membantu
cara memperbaiki pembelajaran baik secara individu maupun kelompok.
d. Menilai hasil yang diharapkan.
Tahap terakhir dalam proses pembelajaran adalah proses pembelajaran
yaitu menentukan tahap belajar yang diterima oleh siswa. Penyempurnaan tahap
ini dengan menggunakan assessment yang dapat mengukur hasil belajar yang diharapkan.
Idealnya, tujuan pembelajaran akan jelas menentukan keinginan perubahan pada
siswa dan instrumen assessment akan memberikan relevansi pengukuran atau
gambaran tingkat perubahan yang terjadi. Kesesuaian prosedur assessment
yang akan digunakan akan dapat mengetahui hasil yang diharapkan, dengan
memperhatikan keterangan yang dapat dijadikan pertimbangan penting untuk
keefektifan kelas assessment dan perhatian yang sungguh-sungguh untuk
bab selanjutnya.
Penilaian ini harus memiliki kerangka berpikir
(kognitif), sikap mental (afektif), dan keterampilan (psikomotor). Domain
kognitif mencakup tujuan yang berhubungan dengan ingatan (recall),
pengetahuan, dan kemampuan intelektual. Domain afektif mancakup tujuan-tujuan
yang berhubungan dengan perubahan sikap, nilai, perasaan,dan minat. Domain
psikomotor mencakup tujuan-tujuan yang berhubungan dengan manipulasi dan
kemampuan gerak (motor).[15] Semua ini terangkum di
dalam hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses
pembelajaran. Hasil belajar yang dimiliki masing-masing siswa ini diharapkan
mampu berwujud menjadi kecakapan hidup (life skill). Menurut Achjar
kecakapan hidup (life skill) dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu
:
1.
Personal Skill (kecakapan personal)
a) Kesadaran diri (eksistensi diri)
b) Kecakapan berpikir (menggali
informasi, mengolah informasi, mengambil keputusan, memecahkan masalah).
2. Social Skill (kecakapan
sosial)
a) Kecakapan komunikasi lisan
b) Kecakapan komunikasi tertulis
c) Kecakapan tertulis
d) Kecakapan kerja sama
3. Academic Skill (kecakapan
akademik)
a) Kecakapan mengidentifikasi
variabel
b) Kecakapan menghubungkan variabel
c) Kecakapan merumuskan hipotesis
d) Kecakapan melakukan penelitian
4. Spiritual Skill
Kecakapan memahami posisi dan makna
diri di hadapan Tuhan.
5. Vocational Skill (kecakapan
keterampilan)
Kecakapan seseorang memberdayakan panca indera, intuisi dan
penalaran dalam merefleksikan jalan pemikiran melalui lisan, tulisan, perbuatan
dan atau memanfaatkan alat dan bahan untuk memperbaiki, membuat dan atau
memodifikasi suatu produk.
Aspek-aspek kecakapan hidup yang akan dinilai sebagai bagian
hasil belajar adalah: kecakapan berpikir, kesadaran diri, dan komunikasi.
e. Penggunaan hasil
Siswa dengan assessment, pada dasarnya sering dilihat keuntungan guru dan
penyelenggara. Prosedur assessment yang digunakan dengan tepat dapat
secara langsung meningkatkan hasil belajar siswa dengan: 1) Menjelaskan hasil
belajar yang diharapkan. 2) Memberikan tujuan jangka pendek menjelang
pelaksanaan. 3) Memberikan timbal balik mengenai pembelajaran. 4) Memberikan informasi untuk mengatasi kesulitan
belajar dan memilih pengalaman pembelajaran untuk selanjutnya.
Walaupun tujuan tersebut mungkin bermanfaat baik dengan
memberikan assessment secara berkala selama pembelajaran, assessment
terakhir memberikan hasil yang diharapkan. Informasi yang dihasilkan dari tes
dan tipe assessment yang lain juga meningkatkan pembelajaran. Seperti
informasi yang dapat membantu mempertimbangkan: 1) Kepantasan dan tujuan
pembelajaran itu dapat tercapai. 2) Kegunaan
dari bahan-bahan pembelajaran. 3) Keefektifan
metode pembelajaran. Prosedur assessment dapat
memberikan secara langsung kemajuan dalam proses belajar-mengajar.
Hasil assessment juga dapat digunakan untuk menentukan angka dan laporan
kemajuan siswa kepada orang tua. Sistematika yang digunakan pada banyak
prosedur assessment menjadi dasar keobjektifan untuk laporan setiap
kemajuan belajar siswa. Selain untuk menilai dan melaporkan, hasil assessment
juga dapat berguna untuk keperluan berbagai administrasi dan keperluan
pimpinan, pengembangan kurikulum, membantu siswa dalam belajar, mengambil
kejuruan, dan keefektifan program sekolah dalam penilaian.
Prosedur assessment meliputi: tehnik observasi, penilaian, dan laporan individu. Observasi
secara langsung merupakan cara yang terbaik untuk menilai beberapa aspek
kemajuan belajar. Penggunaan catatan anecdotal dapat dilakukan guru melalui
observasi informal yang dapat menjadi sumber informasi tentang perkembangan
siswa. Pendapat dan laporan dapat dibuat oleh
siswa sendiri, selain itu dapat juga menjadi sumber yang berharga dalam dalam
perkembangan pembelajaran. (1) pendapat tentang penggunaan penilaian
perkembangan baik individu maupun kelompok. (2) metode pelaporan memberikan
keterangan secara lengkap tentang yang dibutuhkan siswa, permasalahan,
penyesuaian diri, minat, dan sikap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar